Jakarta — Technologue.id melaporkan, sengketa hukum antara Apple dan OpenAI memasuki babak baru yang semakin memanas. Raksasa teknologi asal Cupertino itu dikabarkan telah mengirimkan surat resmi kepada puluhan mantan karyawannya sebagai bagian dari investigasi dugaan pencurian rahasia dagang.
Langkah tegas ini diambil setelah Apple menemukan sejumlah bukti awal yang dinilai sangat memberatkan pihak OpenAI. Dalam gugatan yang diajukan sebelumnya, Apple menyebut bukti yang telah dikumpulkan hanyalah "puncak gunung es" dari pelanggaran yang lebih besar.
Dilansir dari The Financial Times, surat tersebut ditujukan kepada sekitar 40 mantan karyawan Apple yang kini bekerja di OpenAI. Mereka diminta untuk tidak menghapus email atau komunikasi pribadi lain yang berpotensi menjadi barang bukti dalam persidangan.
Permintaan semacam ini memang lazim dalam proses discovery di pengadilan Amerika Serikat. Namun, pengiriman surat secara massal kepada puluhan mantan karyawan mengindikasikan bahwa Apple meyakini masih banyak fakta tersembunyi yang belum terungkap.
Kasus ini bermula dari maraknya perpindahan karyawan Apple ke OpenAI dalam setahun terakhir. Menariknya, mereka yang hengkang bukanlah engineer biasa, melainkan talenta terbaik yang pernah dimiliki Apple di berbagai divisi penting.
Baca Juga:
Hingga saat ini, OpenAI dilaporkan telah merekrut lebih dari 400 mantan karyawan Apple. Perusahaan yang dipimpin Sam Altman itu tengah serius mengembangkan perangkat keras sebagai pendamping produk AI mereka.
Menurut laporan Bloomberg, produk hardware pertama OpenAI akan berupa speaker pintar portabel yang berfungsi sebagai asisten AI humanoid untuk digunakan di rumah. Langkah ini dinilai sebagai upaya OpenAI untuk bersaing langsung dengan ekosistem perangkat Apple.
OpenAI sendiri belum memberikan tanggapan resmi terhadap gugatan yang dilayangkan Apple. Namun, mereka sempat merilis pernyataan yang terkesan ambigu dan dinilai lemah oleh banyak pengamat hukum.
"Kami tidak memiliki kepentingan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Kami tetap fokus membangun teknologi inovatif yang memberdayakan masyarakat di mana pun," demikian bunyi pernyataan resmi OpenAI.
Dalam gugatannya, Apple menuding salah satu petinggi OpenAI, Tang Tan, yang kini menjabat sebagai chief of hardware, membawa informasi produk rahasia. Tan juga diduga menginstruksikan kandidat karyawan yang masih bekerja di Apple untuk membawa "komponen asli" saat wawancara kerja.
Tuduhan lain yang tak kalah mengejutkan adalah praktik OpenAI yang menipu pemasok Apple untuk menunjukkan teknik finishing logam khusus. OpenAI disebut meyakinkan pemasok bahwa Apple telah memberikan izin untuk mempelajari teknik proprietary tersebut.
Apple juga menyoroti perilaku mantan karyawannya bernama Chang Liu yang menyimpan laptop perusahaan setelah mengundurkan diri. Liu diduga menemukan celah autentikasi di jaringan Apple dan menggunakannya untuk mengakses file rahasia.
"Saat mengembangkan hardware untuk OpenAI, Liu secara sembunyi-sembunyi mengakses dan mengunduh puluhan file rahasia Apple, termasuk informasi detail produk yang belum dirilis, presentasi engineering, spesifikasi teknis, dan data proyek proprietary," demikian petikan gugatan Apple.
Perseteruan kedua raksasa teknologi ini tentu menarik untuk disimak, terutama mengingat hubungan bisnis mereka yang masih berjalan. Integrasi ChatGPT di iOS menjadi salah satu titik rawan yang berpotensi terdampak oleh sengketa hukum ini.
Publik kini menanti respons resmi OpenAI terhadap gugatan tersebut. Apakah mereka akan membantah seluruh tuduhan atau justru mencari jalan damai dengan Apple, mengingat bukti yang dikantongi Apple dinilai cukup kuat.
Perkembangan kasus ini juga menjadi sorotan industri, mengingat penggunaan model AI dan praktik bisnis di sektor teknologi semakin mendapat pengawasan ketat. Sengketa semacam ini bisa menjadi preseden penting bagi perlindungan kekayaan intelektual di era kecerdasan buatan.
Terlepas dari hasil akhir persidangan nanti, kasus ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di industri AI dan hardware. Perlindungan rahasia dagang menjadi isu krusial yang tidak bisa dianggap remeh oleh perusahaan teknologi mana pun.
Apple sendiri dikenal sangat ketat dalam menjaga kerahasiaan produknya. Langkah agresif mereka dalam kasus ini menegaskan komitmen perusahaan untuk melindungi inovasi dari praktik bisnis yang dinilai tidak fair.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa mobilitas talenta di industri teknologi harus diimbangi dengan kepatuhan terhadap etika dan hukum. Perpindahan karyawan memang hal lumrah, tetapi membawa rahasia perusahaan lama adalah pelanggaran serius.
Kita tunggu bagaimana kelanjutan drama hukum antara dua raksasa teknologi ini. Apakah akan berujung pada penyelesaian di luar pengadilan atau justru menjadi salah satu persidangan paling menarik dalam sejarah industri teknologi modern.