Jakarta, Technologue.id – Di tengah ketegangan geopolitik dan hambatan perdagangan global, Grup Bosch mengoptimalkan prospek pertumbuhan dengan kekuatan inovasi bisnis penuh pada tahun fiskal 2026. Strategi 2030 perusahaan menjadi fondasi utama untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Penyedia teknologi dan layanan ini menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 2–5 persen. Selain itu, margin EBIT dari operasional ditargetkan mencapai 4–6 persen untuk tahun 2026. Bosch mengalokasikan sekitar 12 miliar euro untuk investasi penelitian dan pengembangan serta belanja modal pada tahun 2025.
Stefan Hartung, chairman of the board of management of Robert Bosch GmbH, menyatakan komitmen perusahaan untuk memelopori tren otomasi. “Kami berkomitmen untuk memelopori tren otomasi, digitalisasi, elektrifikasi, dan kecerdasan buatan,” ujarnya. Menurutnya, hal tersebut membuka jalan bagi pertumbuhan bisnis yang menguntungkan.
Bosch merupakan salah satu perusahaan industri terkuat di dunia dalam hal inovasi. Perusahaan mendaftarkan sekitar 6.300 paten pada tahun 2025 dan kembali menjadi pemimpin di Jerman. Pendapatan penjualan mencapai 91,0 miliar euro, sedikit meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 90,3 miliar euro.
Setelah disesuaikan dengan efek nilai tukar, pertumbuhan mencapai 4,1 persen. Namun, margin EBIT operasional berada di angka 2 persen, di bawah pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar 3,5 persen. Penyesuaian struktural dan personel berdampak signifikan terhadap hasil dalam bentuk provisi sebesar 2,7 miliar euro.
Di Indonesia, Bosch terus memperkuat perannya dengan memfasilitasi transformasi industri dan mobilitas. Perusahaan menghadirkan solusi utama seperti Electronic Control Units (ECU) dan Battery Management Systems (BMS). Teknologi mobilitas lainnya juga dibawa lebih dekat ke pasar untuk mendukung sistem yang lebih terhubung dan efisien.
Pirmin Riegger, Managing Director Bosch di Indonesia, menekankan pertumbuhan dua digit yang kuat di beberapa lini bisnis. “Prioritas kami adalah terus membangun kapabilitas, memperkuat kemitraan, dan menghadirkan teknologi relevan,” katanya. Bosch juga memperkenalkan kembali Bosch Car Service di Indonesia dengan pendekatan jaringan yang diperbarui.
Bosch telah meluncurkan 20 bengkel yang beroperasi pada 2025 melalui kemitraan dengan PT XMotors International Group. Secara paralel, perusahaan meluncurkan 32 titik penjualan dan servis baterai otomotif di seluruh Indonesia. Langkah ini memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan aksesibilitas produk.
Selain itu, Bosch meluncurkan delapan Home Experience Centers yang menawarkan pengalaman langsung terhadap peralatan rumah tangga. Power Tools Blue Store juga dihadirkan sebagai konsep ritel untuk lini profesional "Blue" Bosch. Kampanye "Beres, Bosch" diluncurkan sebagai inisiatif terintegrasi untuk melokalisasi janji "Invented for Life".
Bosch Indonesia juga berkontribusi bagi masyarakat lokal melalui program CSR “Bosch Bersama Negeri”. Inisiatif ini berfokus pada dampak jangka panjang melalui pendidikan terintegrasi di Nabire, Papua Tengah. Program ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) dan Foodbank Indonesia.
Untuk mencapai pengembangan bisnis yang sukses, perusahaan harus mempertahankan kondisi finansial yang kompetitif. Dengan selesainya pembicaraan mengenai pemangkasan jabatan di Jerman, Bosch meningkatkan posisi kompetitif masa depannya. “Negosiasi tersebut tidak mudah, tetapi kedua belah pihak menunjukkan rasa tanggung jawab,” kata Stefan Hartung.
Di industri otomotif, Tiongkok saat ini menetapkan standar untuk tingkat harga. Stefan memandang penguatan kepemimpinan inovasi sebagai faktor keberhasilan utama untuk memperluas bisnis. Implementasi Strategi 2030 menargetkan Bosch menjadi salah satu dari tiga pemasok terkemuka di pasar-pasar utamanya.
Bosch memproyeksikan ekonomi global hanya akan tumbuh moderat pada tahun ini. Markus Forschner, CFO Robert Bosch GmbH, menekankan pentingnya daya saing sebagai fondasi pertumbuhan. “Hal ini membuat kami makin tangguh dalam menghadapi tantangan mendatang,” ujarnya.

Bosch terus mendorong inovasi di bidang mikroelektronika serta teknologi sensor. Para ahli memperkirakan pasar global untuk sensor dapat bernilai lebih dari 440 miliar dolar AS pada tahun 2031. Bosch berpeluang memetik manfaat dari pertumbuhan aplikasi potensial di bidang robotika dan mengemudi otonom.
Di bidang mobilitas, Bosch memproyeksikan pasar perangkat lunak otomotif akan bernilai sekitar 200 miliar euro pada tahun 2030. Stefan melihat peluang pertumbuhan besar dalam mobilitas berbasis perangkat lunak. “Bosch berada di lini terdepan di bidang ini dan menghadirkan AI ke dalam bidang pandang pengemudi,” katanya.
Bosch juga mengumumkan usaha patungan dengan Tata AutoComp Systems di India. Mulai pertengahan tahun, kolaborasi ini akan fokus pada pengembangan poros dan motor listrik. Inovasi AI juga mendorong bisnis barang konsumsi dan layanan secara signifikan.
Bosch mencapai arus kas bebas positif sekitar 300 juta euro pada tahun 2025. Rasio R&D berdiri pada angka 8,7 persen dari penjualan dengan pengeluaran mencapai 7,9 miliar euro. “Bahkan di masa sulit, Bosch siap melakukan investasi awal yang substansial,” tegas Markus Forschner.
Perkembangan penjualan di berbagai sektor bisnis tertahan oleh kondisi ekonomi yang lesu. Sektor Mobilitas mencatatkan kenaikan pendapatan penjualan sebesar 0,1 persen menjadi 55,8 miliar euro. Sektor Energy and Building Technology membukukan penjualan sebesar 8,5 miliar euro dengan peningkatan 13,0 persen.