Jakarta — Sebuah film animasi China berjudul Niu Lai nyaris dipastikan akan tenggelam dan menjadi salah satu film buruk yang tak pernah diingat publik. Namun, nasibnya berubah drastis setelah warganet menyadari betapa parahnya kegagalan film tersebut di pasar.

Pada 14 Agustus lalu, kabar mengejutkan muncul bahwa Niu Lai hanya meraup pendapatan box office sebesar 7.352 yuan atau sekitar 1.000 dolar AS. Angka ini sangat tidak lazim untuk sebuah film yang dirilis secara nasional, sehingga banyak orang mengira ada kesalahan penulisan dalam laporan tersebut.

Setelah cuplikan film yang menampilkan karakter kaku, animasi yang tidak mulus, dan alur cerita surreal mulai beredar, ejekan warganet perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Masyarakat mulai membeli tiket untuk membuktikan apakah sebuah film layar lebar benar-benar bisa terlihat seburuk itu.

Ternyata, anggapan tersebut benar adanya. Dalam hitungan hari, Niu Lai berubah dari film yang nyaris hilang menjadi tontonan yang diputar di hadapan penonton yang memadati bioskop. Kelemahan manusiawi yang begitu kentara justru menjadikannya fenomena digital anti-AI yang tak terduga.

Niu Lai, yang juga diterjemahkan sebagai The Bull Comes, mengisahkan seekor anak sapi yang kesulitan berdiri dan memasuki mimpi panjang. Ditemani seekor burung, ia bertemu berbagai hewan lain, menghadapi serangan serigala, kehilangan induknya, serta belajar tentang keberanian dan pengorbanan.

Kisahnya terbilang tulus, namun eksekusinya menurut banyak penonton berada di luar nalar. Cuplikan yang diunggah memperlihatkan model 3D dengan detail rendah, gerakan kaku, dan karakter yang saling menembus satu sama lain. Komentator China bahkan menyamakan animasinya dengan presentasi PowerPoint.

Seorang penonton lain menyebut film ini seperti pekerjaan rumah buatan AI yang diselesaikan di menit-menit terakhir. Satu ulasan di Weibo bahkan menyatakan bahwa menyebut film ini buruk adalah sebuah penghinaan bagi film-film buruk pada umumnya.

Alih-alih membuat orang enggan menonton, cuplikan tersebut justru memicu efek sebaliknya. Salah satu ulasan merangkum daya tariknya dengan pernyataan: "Kamu akan menyesal menontonnya selama 86 menit, tapi kamu juga akan menyesal tidak menontonnya seumur hidup."

Fenomena Niu Lai membalikkan proses pemasaran film pada umumnya. Alih-alih distributor menciptakan kesadaran publik terlebih dahulu, justru pengguna internet yang memicu perhatian. Penonton kemudian menelepon bioskop untuk menanyakan mengapa film tersebut tidak diputar, sehingga manajer bioskop menambah jadwal pemutaran.

Dalam waktu 48 jam setelah menjadi perbincangan hangat, Niu Lai berhasil mengumpulkan pendapatan lebih dari 3 juta yuan. Pada 20 Agustus, film ini telah meraup lebih dari 4 juta dolar AS dan masuk dalam peringkat harian China bersama film-film besar lainnya.

Fenomena ini menarik perhatian sutradara China Remo Zhu yang menyebut Niu Lai berhasil memanfaatkan suasana hati pemberontak penonton muda. Menontonnya di bioskop yang ramai menjadi sebuah pengalaman komunal yang interaktif dan imersif.

Niu Lai ternyata merupakan film pertama dari Xin Yumeng, seorang desainer lanskap berusia 34 tahun tanpa latar belakang formal di bidang animasi. Ia mulai mengembangkan film ini pada 2021 dan menghabiskan waktu sekitar lima tahun untuk mempelajari proses pembuatan film.

Xin mengaku sempat ingin menyerah berkali-kali karena kendala teknis yang dihadapinya. Ia bahkan membeli peralatan komputer bekas secara daring karena tidak mampu membeli perangkat profesional, dan beberapa komponennya sempat terbakar saat digunakan.

Ibu Xin, Sun Lifang, yang berusia 60-an tahun, ternyata berperan besar dalam proses kreatif film ini. Ia membantu mengembangkan naskah, mengisi suara karakter, hingga belajar komposisi musik secara otodidak untuk menciptakan skor film dan lagu penutup yang hangat.

Yang menarik, Xin mengaku tidak menggunakan AI generatif dalam proses produksi sama sekali. Ia mulai menggarap film ini sebelum berbagai alat AI tersedia untuk publik, sehingga para penggemar menyebut Niu Lai sebagai karya yang murni buatan tangan manusia.

Kesuksesan Niu Lai pun merambah ke pasar saham China. Nama film yang berarti "sapi datang" dianggap sebagai pertanda baik bagi pasar bullish, sehingga beberapa saham perusahaan dengan karakter "sapi" di namanya ikut naik. Meski demikian, para analis memperingatkan agar investor tidak menjadikan film ini sebagai sinyal pasar.