Technologue.id, Jakarta – Google melalui tim Google DeepMind dan Google Research memperkenalkan pengembangan terbaru pada teknologi prediksi cuaca berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan merilis model WeatherNext sebagai proyek open source. Langkah ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan dan lembaga cuaca di seluruh dunia meningkatkan akurasi peringatan dini terhadap siklon tropis.

Pengembangan WeatherNext melibatkan kolaborasi sejumlah institusi terkemuka, termasuk National Hurricane Center, Cooperative Institute for Research in the Atmosphere (CIRA), UK Met Office, serta berbagai badan meteorologi internasional lainnya. Google juga telah membuka akses terhadap kode sumber dan bobot (model weights) WeatherNext melalui GitHub agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh komunitas ilmiah.

Hasil penelitian mengenai kemampuan WeatherNext telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature. Selain itu, Google juga membagikan penjelasan yang lebih mudah dipahami masyarakat melalui sebuah artikel di blog resminya.

Salah satu tantangan terbesar dalam memprediksi siklon tropis—yang dikenal sebagai hurricane di Samudra Atlantik dan typhoon di kawasan Pasifik Barat—adalah kebutuhan untuk memprediksi dua aspek yang berbeda sekaligus, yakni jalur pergerakan dan intensitas badai. Selama ini, kedua aspek tersebut biasanya diperkirakan menggunakan model yang berbeda.

Model cuaca global mampu memprediksi lintasan badai dengan cukup baik karena mempertimbangkan kondisi atmosfer dalam skala besar. Sementara itu, untuk mengetahui seberapa kuat badai akan berkembang, para peneliti biasanya mengandalkan model lokal yang lebih rinci untuk menganalisis proses termodinamika di pusat siklon.

WeatherNext mencoba menyatukan kedua kemampuan tersebut ke dalam satu model AI. Untuk melatih sistem ini, Google menggunakan hampir 20 terabyte data atmosfer global yang dipadukan dengan data historis siklon dari International Best Track Archive for Climate Stewardship (IBTrACS). Hasilnya, model ini mampu memperkirakan jalur sekaligus intensitas siklon secara bersamaan.

Menurut tim peneliti, WeatherNext juga menawarkan peningkatan signifikan dari sisi kecepatan pemrosesan. Dengan memanfaatkan Tensor Processing Unit (TPU), model ini mampu menghasilkan prakiraan cuaca hingga 15 hari ke depan dalam waktu kurang dari satu menit.

"Kini kami dapat menghasilkan satu prakiraan cuaca untuk periode 15 hari dalam waktu kurang dari satu menit menggunakan TPU, yang memungkinkan para ahli prakiraan cuaca untuk segera mengevaluasi distribusi probabilitas dari risiko ekstrem yang berpotensi menimbulkan dampak sangat parah," tulis tim peneliti WeatherNext.

Google sebelumnya telah memperkenalkan generasi kedua WeatherNext pada tahun lalu. Selain pengembangan model prediksi siklon, perusahaan tersebut juga terus mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk membantu memprediksi berbagai bencana alam lainnya, termasuk banjir bandang.