Jakarta – OpenAI tengah menghadapi penyelidikan dari koalisi jaksa penuntut umum di sejumlah negara bagian Amerika Serikat. Penyelidikan ini menyoroti aktivitas bisnis, penanganan data pengguna, dan dampak layanan kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan perusahaan tersebut.

Melansir Engadget, perusahaan teknologi itu menerima surat panggilan pada Jumat (12/6) waktu setempat. Surat tersebut meminta OpenAI menyerahkan berbagai informasi dan dokumen terkait operasionalnya.

Dalam penyelidikan tersebut, para jaksa meminta penjelasan mengenai sistem periklanan OpenAI. Mereka juga menyoroti strategi perusahaan dalam menarik dan mempertahankan pengguna.

Selain itu, pengelolaan data pribadi dan informasi kesehatan pengguna menjadi perhatian utama. Para jaksa ingin memastikan data-data sensitif tersebut tidak disalahgunakan.

Penyelidikan juga menyoroti penggunaan layanan OpenAI oleh anak-anak dan lansia. Kedua kelompok rentan ini dinilai membutuhkan perlindungan ekstra dalam berinteraksi dengan AI.

Pengembangan model deep learning dan kebijakan perusahaan turut menjadi sorotan. Para jaksa juga menyoroti kecenderungan model AI memberikan respons yang terlalu menyetujui keinginan pengguna.

Menanggapi hal itu, juru bicara OpenAI menyatakan perusahaan memandang serius berbagai kekhawatiran tersebut. Perusahaan berkomitmen mengembangkan AI yang bermanfaat bagi masyarakat secara aman dan bertanggung jawab.

"Kami menanggapi serius kekhawatiran yang disampaikan para jaksa agung negara bagian dan berniat berkomunikasi secara konstruktif dengan kantor mereka," kata perusahaan dalam pernyataan resminya.

Belum diketahui secara pasti apa yang melatarbelakangi penyelidikan tersebut. Namun, perusahaan pengembang AI memang tengah menjadi sorotan regulator di berbagai negara bagian AS.

Pada 2025, sebanyak 44 jaksa penuntut umum negara bagian mengirim surat kepada Meta, Google, Apple, Microsoft, OpenAI, Anthropic, Perplexity AI, dan xAI. Surat tersebut meminta perusahaan-perusahaan itu meningkatkan perlindungan terhadap anak-anak dari interaksi chatbot yang tidak pantas.

Regulator di berbagai negara bagian semakin ketat mengawasi praktik pengelolaan data oleh perusahaan teknologi. Kasus sebelumnya juga menunjukkan bahwa insiden keamanan turut menyoroti risiko yang dihadapi perusahaan AI.

OpenAI sendiri telah beberapa kali menghadapi tekanan regulasi di berbagai negara. Perusahaan pengembang ChatGPT ini terus berupaya mematuhi aturan yang berlaku di setiap yurisdiksi.

Para pengamat menilai penyelidikan ini bisa berdampak signifikan terhadap industri AI. Regulasi yang lebih ketat berpotensi mengubah cara perusahaan mengembangkan dan memasarkan teknologi mereka.

OpenAI belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai detail penyelidikan tersebut. Perusahaan hanya menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan otoritas terkait.

Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh pelaku industri dan masyarakat luas. Pasalnya, hasil penyelidikan bisa menjadi preseden penting bagi regulasi AI di Amerika Serikat.