Technologue.id, Jakarta – Microsoft kembali mengumumkan kenaikan harga untuk lini konsol Xbox secara global. Mulai 1 Agustus 2026, seluruh model Xbox Series S dan Xbox Series X akan dijual dengan harga yang lebih tinggi, menandai kenaikan harga ketiga yang terjadi di Amerika Serikat sejak awal 2025 untuk perangkat yang telah beredar hampir enam tahun di pasar.

Dalam penyesuaian terbaru, Xbox Series S versi 512GB mengalami kenaikan harga sebesar US$100 menjadi US$500. Sementara itu, seluruh model dengan kapasitas penyimpanan 1TB akan mengalami kenaikan sebesar US$150.

Berikut harga baru Xbox di pasar Amerika Serikat mulai 1 Agustus:

  • Xbox Series S 512GB: US$500
  • Xbox Series S 1TB: US$600
  • Xbox Series X Digital: US$750
  • Xbox Series X: US$800

Selain menaikkan harga, Microsoft juga mengonfirmasi penghentian produksi Xbox Series X versi 2TB.

Dalam pernyataan resminya, Xbox menyebut lonjakan biaya komponen penyimpanan dan memori sebagai alasan utama di balik kenaikan harga tersebut. Perusahaan mengungkapkan bahwa harga komponen tersebut telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dalam beberapa waktu terakhir dan diperkirakan masih akan kembali meningkat hingga dua kali lipat pada 2027.

"Kami berharap kenaikan harga lain tidak diperlukan, dan kami telah menghabiskan beberapa bulan terakhir bekerja sama dengan pemasok untuk mencari opsi. Sayangnya, harga penyimpanan dan memori konsol telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dan kami memperkirakan kenaikan dua kali lipat lagi pada musim gugur 2027," tulis Xbox dalam unggahan blog resminya.

Perusahaan juga menyoroti bahwa industri elektronik konsumen secara keseluruhan sedang menghadapi tekanan akibat krisis komponen. Berbeda dengan perangkat seperti ponsel pintar atau komputer yang umumnya dijual dengan margin keuntungan, konsol game selama ini sering dipasarkan dengan harga yang lebih rendah dari biaya produksinya dan keuntungan diperoleh melalui penjualan software serta layanan digital.

Meski tidak menjelaskan secara rinci penyebab melonjaknya biaya komponen, banyak pihak mengaitkan fenomena tersebut dengan meningkatnya permintaan memori dan penyimpanan untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI). Sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft, tengah menggelontorkan investasi besar-besaran untuk memperluas infrastruktur AI yang membutuhkan kapasitas memori dan penyimpanan dalam jumlah besar.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada Xbox. Produsen konsol lain seperti Sony dan Nintendo juga telah melakukan penyesuaian harga dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu, Valve pekan ini mengungkapkan bahwa krisis komponen turut memengaruhi harga dan ketersediaan perangkat gaming buatannya.

Untuk mengurangi dampak kenaikan harga bagi konsumen, Microsoft menyediakan sejumlah opsi pembiayaan, termasuk program buy now, pay later melalui Microsoft Store, cicilan bunga nol persen melalui Amazon, pembelian perangkat bekas, serta program rekondisi bersertifikat. Namun, perusahaan belum berencana menghidupkan kembali program Xbox All Access yang sebelumnya memungkinkan pelanggan membeli konsol dan berlangganan Game Pass Ultimate melalui skema pembayaran bulanan.

Pengumuman kenaikan harga ini muncul di tengah upaya restrukturisasi besar-besaran yang tengah dilakukan divisi Xbox. Sejumlah laporan menyebut Microsoft sedang berupaya meningkatkan profitabilitas bisnis gaming-nya melalui pengurangan biaya operasional.

Di saat yang sama, berbagai rumor mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) baru di lingkungan Xbox juga terus mengemuka setelah berakhirnya tahun fiskal Microsoft pada 30 Juni. Beberapa studio internal dikabarkan menghadapi ketidakpastian, sementara sejumlah pimpinan studio disebut tengah mencari opsi untuk memperoleh kemandirian atau pemilik baru.