Jakarta, Technologue.id — Microsoft resmi meninggalkan branding Copilot+ pada lini perangkat Surface terbarunya. Keputusan ini menandai pergeseran strategi perusahaan setelah dua tahun gencar mempromosikan kategori AI PC tersebut ke pasar mainstream.
Perangkat Surface Pro dan Surface Laptop generasi terbaru diluncurkan di ajang Qualcomm Summit di Hawaii. Keduanya hadir tanpa label Copilot+ yang sebelumnya menjadi ciri khas perangkat AI besutan Microsoft.
Microsoft Surface CVP Brett Ostrum mengonfirmasi perubahan ini saat ditanya media. Ia menyatakan perangkat baru tersebut tetap memenuhi standar teknis yang ditetapkan untuk perangkat Copilot+.
"These are not called Copilot+ PCs. They do meet all the requirements of our previous bar for what Copilot+ devices are," ujar Ostrum kepada Windows Central.
Persyaratan utama perangkat Copilot+ berpusat pada keberadaan NPU alias neural processing unit. Chip tersebut harus memiliki kemampuan komputasi AI minimal 45 TOPs agar bisa menjalankan fitur-fitur cerdas secara lokal.
Meski secara teknis memenuhi syarat, Microsoft tampaknya enggan menjelaskan alasan di balik penghapusan branding tersebut. Program Copilot+ sendiri sejak awal menuai beragam reaksi di kalangan pengguna dan produsen perangkat.
Baca Juga:
Saat gelombang pertama PC Copilot+ diluncurkan, Microsoft meminta para produsen mengubah tata letak keyboard. Mereka menambahkan tombol Copilot khusus yang berfungsi memunculkan chatbot berbasis kecerdasan buatan.
Windows 11 juga mendapat fitur Recall yang kontroversial. Fitur ini secara terus-menerus mengambil tangkapan layar di PC pengguna untuk memudahkan pencarian riwayat kerja dengan bantuan AI.
Kendati melepas branding Copilot+, Microsoft disebut masih sangat agresif mendorong adopsi AI di ekosistem produknya. CEO Satya Nadella bahkan menyebut Copilot sebagai sistem operasi baru untuk dunia kerja.
"We're building Copilot as a new OS for work that spans every model, every form factor, and every task," tulis Nadella dalam sebuah cuitan.
Langkah Microsoft mengembangkan Copilot sejalan dengan berbagai inisiatif yang tengah diuji perusahaan. Sebelumnya, Project Aion disebut sebagai upaya menjadikan Copilot sebagai fondasi sistem operasi masa depan.
Di sisi lain, Microsoft juga memperluas kehadiran AI ke peramban melalui Copilot Vision. Fitur tersebut memungkinkan pengguna Edge berinteraksi dengan konten web secara lebih kontekstual.
Adopsi Copilot turut menyasar sektor enterprise, termasuk kemitraan dengan operator telekomunikasi. Microsoft 365 Copilot disebut mempermudah operasional perusahaan seperti Telkomsel.
Meski begitu, tidak semua divisi Microsoft dipaksa mengadopsi AI secara masif. CEO Xbox Asha Sharma menegaskan perusahaan tidak akan memaksa studio game menggunakan teknologi tersebut.
Namun, Microsoft tetap aktif mengajukan paten terkait pemanfaatan AI di industri game. Teknologi yang dipatenkan mencakup penayangan iklan di tengah permainan hingga fitur yang bisa memainkan game secara otomatis.
Penghapusan branding Copilot+ pada Surface terbaru menunjukkan bahwa strategi pemasaran AI PC Microsoft tengah dievaluasi ulang. Perusahaan tampaknya lebih memilih menyoroti kemampuan perangkat secara substantif ketimbang label pemasaran.
Terlepas dari itu, komitmen Microsoft terhadap pengembangan AI tidak surut. Perusahaan terus mendorong integrasi Copilot ke berbagai lini produk, dari sistem operasi hingga perangkat keras.
Bagi konsumen, perubahan branding ini bisa menjadi sinyal bahwa Microsoft ingin pendekatan yang lebih sederhana. Fokusnya kini bergeser ke pengalaman pengguna ketimbang sekadar sertifikasi teknis.