Jakarta — Nothing secara resmi mengumumkan pembatalan peluncuran smartphone terbarunya, CMF Phone 3 Pro. Keputusan ini diambil karena tekanan biaya yang sangat besar pada komponen RAM, yang membuat produksi ponsel kelas menengah tersebut tidak lagi layak secara finansial.

Akis Evangelidis, salah satu pendiri Nothing, mengonfirmasi bahwa perusahaan tidak akan merilis CMF Phone baru pada tahun 2026. Padahal, perangkat tersebut sebelumnya sedang dalam tahap pengembangan aktif sebagai penerus langsung dari CMF Phone 2 Pro.

Kenaikan harga RAM telah mengubah struktur biaya produksi secara drastis. Estimasi industri menunjukkan bahwa jika perangkat ini tetap dirilis dengan spesifikasi yang direncanakan, harganya akan mencapai sekitar Rs. 30.000 atau setara dengan 318 dolar AS.

Sebagai perbandingan, pendahulunya, CMF Phone 2 Pro, diluncurkan pada April 2025 dengan harga orisinal Rs. 18.999 atau sekitar 201 dolar AS. Artinya, konsumen harus membayar 58 hingga 85 persen lebih mahal untuk model terbaru ini.

Fenomena ini sejalan dengan laporan industri yang menyebutkan bahwa kenaikan harga memori mengancam tren smartphone tahun 2026. Biaya produksi yang membengkak memaksa produsen untuk menyesuaikan strategi produk mereka.

CEO Nothing, Carl Pei, menyoroti adanya inversi yang tidak biasa dalam struktur biaya perangkat keras. Ia mencatat bahwa pengeluaran untuk RAM saat ini melebihi biaya gabungan prosesor dan layar perangkat tersebut.

Kondisi ini membuat perusahaan harus menyesuaikan portofolio produk di bawah merek CMF yang dikenal ramah anggaran. Sementara itu, induk merek Nothing berencana mengeksplorasi kategori produk alternatif di luar smartphone tradisional sepanjang tahun 2026.

Dalam unggahan di media sosial, Nothing juga memberikan kode-kode bertema Pokémon yang mengisyaratkan perubahan strategi. Kode nama seperti "Jumpluff" disebut-sebut sebagai perangkat earbud baru, sementara "Blastoise" mengarah pada model smartphone yang berbeda.

Pengembangan ini menunjukkan bahwa Nothing tengah bersiap untuk menyegarkan lini perangkat keras di bawah merek utamanya. Ada kemungkinan sub-merek CMF akan mengalami restrukturisasi atau bahkan dihentikan secara bertahap.

Belum dapat dipastikan apakah Nothing akan menyerap elemen desain dari proyek CMF yang dibatalkan ke dalam Nothing Phone 4 mendatang. Alternatif lainnya, perusahaan bisa mengembangkan produk kelas menengah terpisah di bawah lini utama Nothing untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh CMF Phone 3 Pro.

Keputusan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri smartphone akibat fluktuasi harga komponen. Kenaikan biaya produksi tidak hanya berdampak pada produsen, tetapi juga pada konsumen yang harus merogoh kocek lebih dalam.

Sebelumnya, tren peningkatan kapasitas RAM menjadi salah satu daya tarik utama smartphone kelas menengah. Namun, dengan melonjaknya harga komponen ini, produsen seperti Nothing terpaksa mengambil langkah drastis untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Nothing sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai nasib tim pengembangan CMF Phone 3 Pro. Namun, konfirmasi dari Akis Evangelidis sudah cukup jelas bahwa perangkat tersebut tidak akan hadir dalam waktu dekat.

Para penggemar merek Nothing tentu kecewa dengan pembatalan ini. Namun, perusahaan tampaknya lebih memilih untuk tidak merilis produk dengan harga yang tidak kompetitif daripada memaksakan diri dan merusak reputasi merek.

Ke depannya, publik akan menantikan langkah Nothing dalam menghadapi tekanan biaya ini. Apakah mereka akan menghadirkan inovasi di kategori produk lain atau justru memperkuat lini utama Nothing Phone, masih menjadi pertanyaan menarik.

Yang jelas, keputusan ini menunjukkan bahwa Nothing tidak ingin terjebak dalam perang harga yang tidak sehat. Perusahaan lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat sebelum kembali meramaikan segmen smartphone kelas menengah.