Technologue.id, Jakarta – Perusahaan agritech Rize mengumumkan berhasil menutup putaran pendanaan Seri B senilai US$31 juta atau sekitar Rp505 miliar (kurs Rp16.300 per dolar AS). Pendanaan tersebut terdiri dari US$20 juta dalam bentuk ekuitas dan US$11 juta berupa pembiayaan utang, yang akan digunakan untuk memperluas penerapan pertanian padi berkelanjutan di Indonesia, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Dengan pendanaan terbaru ini, total dana yang berhasil dihimpun Rize sejak berdiri mencapai US$47 juta atau sekitar Rp849 miliar.

Putaran pendanaan ekuitas dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts, dengan partisipasi The Rockefeller Foundation. Investor lama seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures juga kembali menanamkan modal. Sementara itu, fasilitas pembiayaan utang didukung oleh BIDV, Temasek Foundation, dan UOB.

Rize menyatakan dana segar tersebut akan difokuskan untuk mempercepat ekspansi bisnis sekaligus memperkuat teknologi yang dimiliki perusahaan. Salah satu prioritas utamanya adalah pengembangan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat membantu petani dan tim lapangan dalam mengambil keputusan budidaya secara lebih akurat.

Selain itu, perusahaan akan memperluas akses ke pasar ekspor melalui sistem ketertelusuran (traceability) di seluruh rantai pasok, sehingga beras rendah emisi yang diproduksi petani dapat memenuhi standar pasar internasional sekaligus dipasarkan dengan harga yang kompetitif.

Dana tersebut juga akan digunakan untuk memperluas penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), meningkatkan kepatuhan terhadap Maximum Residue Limit (MRL) yang menjadi persyaratan pasar ekspor premium, mengembangkan inovasi karbon, memperluas operasi lintas negara di Asia Tenggara, serta membuka platform bagi penyedia teknologi dan pelaku industri pertanian untuk berkolaborasi dengan jaringan petani Rize.

Budidaya padi menjadi salah satu penyumbang utama emisi metana dunia, dengan kontribusi sekitar 12% dari total emisi metana global. Menurut Rize, tantangan tersebut hanya dapat diatasi melalui perubahan praktik budidaya yang melibatkan jutaan petani kecil.

Untuk itu, perusahaan mendorong penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) yang direkomendasikan oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan CGIAR. Metode irigasi ini diklaim mampu mengurangi emisi metana hingga 50%, menghemat penggunaan air sebesar 20–30%, sekaligus meningkatkan pendapatan petani hingga 30% tanpa mengurangi produktivitas panen.

Di sisi lain, Rize juga memastikan hasil panen memenuhi standar Maximum Residue Limit (MRL) sehingga dapat diterima di pasar ekspor dengan nilai jual lebih tinggi.