Jakarta — Samsung akhirnya angkat bicara soal iPhone Lipat yang akan segera hadir dari Apple. Hee-Cheul Moon, kepala Advanced Mechanical R&D Group Samsung, menegaskan bahwa kunci utama kesuksesan ponsel lipat terletak pada bobot perangkat.

Pernyataan tersebut disampaikan Moon dalam wawancara virtual dengan WIRED bersama Seungki Choi, kepala Smartphone R&D Group Samsung. Keduanya membahas bagaimana Samsung berhasil memangkas 75 gram bobot Galaxy Z Fold8 dibandingkan generasi pertamanya tujuh tahun lalu.

Berat menjadi faktor krusial dalam kesuksesan ponsel lipat. Jika perangkat terlalu tebal dan berat, pengguna akan enggan memakainya dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam dua tahun terakhir, perangkat lipat dari Honor, Google, dan Samsung terus mengalami penurunan bobot secara signifikan. Setiap iterasi baru menghadirkan desain yang lebih tipis dan ringan dari pendahulunya.

Strategi ini terbukti berhasil meningkatkan minat pasar. Samsung mencatat kenaikan preorder ponsel lipat terbarunya sebesar 30 persen secara global dibandingkan model tahun lalu.

"Melihat brand lain memasuki pasar, kami merasa bangga bahwa nilai yang kami pionirkan dengan kategori baru foldable ini diakui," ujar Moon melalui penerjemah. Galaxy Z Fold8 sendiri menyumbang hampir setengah dari total preorder tersebut.

Saat ditanya soal saran untuk Apple, Moon mengatakan bahwa kunci memberikan nilai pelanggan tertinggi di pasar ini adalah bobot perangkat. "Seperti yang Anda tahu, itu tidak mudah," tegasnya.

iPhone lipat Apple yang dirumorkan bernama iPhone Ultra diperkirakan memiliki bobot antara 230 hingga 241 gram. Angka tersebut lebih berat dibandingkan Galaxy Z Fold8 yang hanya 201 gram.

Samsung berhasil membuat Fold8 lebih ringan dari Galaxy S26 Ultra yang memiliki bobot 214 gram. Desain baru berbentuk paspor membuat perangkat ini lebih mudah digenggam dan dimasukkan ke kantong.

Data internal Samsung dan survei YouGov 2024 menunjukkan bahwa desain yang besar menjadi kekhawatiran utama konsumen yang tidak tertarik membeli ponsel lipat. Tim Samsung menganalisis sekitar 270 komponen dan lebih dari 180 bagian tambahan untuk mencari celah pengurangan bobot.

Berbagai komponen didesain ulang demi efisiensi berat. Samsung menghilangkan 15 bagian tambahan dan memangkas pelat pendukung layar internal hingga ketebalan sekitar 0,2 milimeter.

Untuk menjaga ketahanan layar tipis tersebut, Samsung mengembangkan layar "Flex Titanium" yang terbuat dari film paduan titanium sepertiga lebar rambut manusia. Teknologi ini menjaga permukaan tetap datar dan mencegah lipatan memburuk.

Galaxy Z Fold8 kini hanya mengandalkan sistem kamera ganda tanpa lensa telefoto. Samsung menyebut keputusan ini sebagai konsesi yang disengaja demi menghadirkan desain ringan ala paspor.

Choi menjelaskan bahwa perubahan ini didasari umpan balik pengguna yang menginginkan perangkat lipat yang mudah dibawa. "Kami terus memantau suara dari pasar dan terbuka terhadap segala kemungkinan," katanya.

Meski demikian, ponsel lipat masih menghadapi tantangan durabilitas. Galaxy Z Fold8 hanya mengantongi sertifikasi IP48, sementara ponsel tradisional umumnya sudah IP68. Elizabeth Chamberlain dari iFixit menilai perbaikan perangkat lipat masih menjadi masalah serius.

Analis IDC Nabila Popal memprediksi kehadiran iPhone lipat akan membantu kategori ini tumbuh hampir 13 persen tahun depan. Samsung sendiri optimistis formula desain barunya sudah tepat, dengan para eksekutifnya menggunakan Galaxy Z Fold8 sebagai perangkat harian.