Jakarta — Penutupan Selat Hormuz selama lebih dari 100 hari menjadi salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Namun, harga minyak mentah global justru tidak melonjak seperti yang diperkirakan banyak pihak.

Data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mencatat penurunan drastis pengiriman minyak mentah dari pelabuhan Teluk Arab hingga 95 persen. Sementara itu, pengiriman gas alam cair (LNG) turun hingga 99 persen.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global." Namun, harga minyak Brent justru berada di level USD 87,55 per barel, terendah sejak konflik dimulai.

Matt Stanley, kepala keterlibatan pasar di Kpler, menjelaskan bahwa angka pasti dampak penutupan sulit dihitung. Hal ini disebabkan oleh praktik perdagangan gelap atau dark trade, di mana kapal beroperasi tanpa menyalakan transponder AIS.

Kapal-kapal tersebut bergerak pada malam hari, lebih dekat ke perbatasan Oman, dan terkadang dikawal angkatan laut. Meski demikian, sebagian minyak yang keluar tetap bisa dideteksi melalui jenis minyak mentah yang berbeda.

Minyak Murban dari Uni Emirat Arab (UEA) masih bisa diekspor melalui Fujairah, di luar Selat Hormuz. Sementara itu, minyak jenis Upper Zakum tidak bisa melewati jalur tersebut. Analis pasar minyak mencatat keberadaan minyak Upper Zakum di pasar lain, namun skala pastinya masih belum diketahui.

Stanley memperkirakan sekitar 100 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz sejak awal Mei. "Jika dibandingkan dengan lalu lintas normal sebanyak 20 juta barel per hari, angka ini relatif kecil," ujarnya.

Mengapa Harga Minyak Tidak Melonjak?

Penyebab utama harga minyak tetap stabil adalah adanya buffer atau cadangan besar. China memiliki sekitar 1,3 miliar barel minyak dalam penyimpanan dan menariknya sekitar satu juta barel per hari.

Stanley menjelaskan bahwa permintaan China pada Mei hingga Juli sekitar tujuh juta barel per hari, turun dari 12,5 juta barel per hari pada Desember. Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada juga ikut mengisi kekosongan pasokan.

Tiga analis yang diwawancarai sepakat bahwa respons pasar minyak terhadap gangguan ini cukup baik. Iman Nasseri, direktur pelaksana FGE NexantECA, mengatakan bahwa pasar berhasil memangkas sebagian permintaan.

"Ada juga stok dalam jumlah signifikan yang masuk ke pasar, namun kami ragu hal ini akan berlanjut," kata Nasseri. Ia memperkirakan jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga Juli, situasi akan berubah.

Ancaman Inflasi Global Mengintai

Buffer atau cadangan minyak akan habis. Salah satu analis mengatakan stok mendekati level kritis operasional, di mana minyak di penyimpanan perlu segera diisi ulang.

AS yang saat ini bertindak sebagai produsen pengatur (swing producer) menghadapi tenggat waktu sendiri. Menjelang akhir tahun, AS harus memprioritaskan produksi domestik untuk kebutuhan pemanas rumah tangga.

Situasi ini memicu ancaman inflasi global yang lebih luas. Stanley memperkirakan pasar berharap masalah ini selesai pada pertengahan Agustus.

Dampak pada Produksi dan Infrastruktur

Pasokan minyak global turun 10,1 juta barel per hari pada Maret, dengan produksi OPEC+ turun 9,4 juta barel per hari. Pertanyaan yang lebih sulit adalah seberapa banyak pasokan bisa kembali dan kapan.

Analisis S&P Global CERA memperkirakan waktu pemulihan 10 minggu hingga tujuh bulan untuk ladang yang ditutup selama dua bulan. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan lebih dari 80 fasilitas energi rusak dan pemulihan bisa memakan waktu hingga dua tahun.

Perusahaan minyak nasional UEA memperkirakan arus penuh Selat Hormuz baru akan pulih pada 2027. Stanley menambahkan bahwa infrastruktur pendukung seperti layanan perawatan kapal dan inspeksi mungkin tutup karena kurangnya bisnis.

Risiko Pemulihan Cepat

Secara kontraintuitif, penyelesaian yang cepat dan bersih justru membawa risiko tersendiri. Jika pasokan dari sumber lain sudah tersedia dan Selat Hormuz kembali dibuka, harga minyak bisa anjlok hingga USD 50 per barel.

Negara-negara seperti Irak yang kekurangan pendapatan selama berbulan-bulan bisa mengekspor secara agresif begitu bisa. "OPEC mungkin harus mengelola apa yang dilakukan Irak, atau Arab Saudi yang melakukannya," ujar Stanley.

Ia memperkirakan akan ada badan baru seperti OPEC Timur Tengah yang sesungguhnya. "Manajemen pasokan di semester kedua tahun ini akan menjadi topik utama yang dibicarakan semua orang," pungkasnya.

Produsen otomotif seperti BYD juga mulai menyoroti krisis energi ini. Sementara itu, ambisi kecerdasan buatan di kawasan Teluk juga terancam karena ketergantungan pada kabel bawah laut yang rentan terhadap gangguan.