Jakarta – Singapura resmi memasuki fase baru dalam penggelaran jaringan 5G setelah seluruh operator seluler di negara tersebut mencapai cakupan nasional untuk layanan 5G generasi terbaru. Otoritas Infocomm Media Development Authority (IMDA) mengonfirmasi bahwa semua operator telah memenuhi target cakupan penuh pada akhir 2025.
Meski demikian, IMDA mengizinkan beberapa operator untuk tetap menggunakan jaringan 5G non-standalone (NSA) selama masa transisi. Kebijakan ini diambil agar konsumen tetap bisa menikmati layanan 5G awal tanpa gangguan.
Jaringan 5G standalone (SA) merupakan infrastruktur generasi terbaru yang berjalan di atas inti jaringan 5G murni. Teknologi ini menawarkan kapasitas lebih besar, kecepatan lebih tinggi, serta performa jaringan yang lebih konsisten.
Sejak tahun 2020, IMDA telah menetapkan visi agar Singapura menggunakan jaringan 5G-SA secara penuh. Regulator tersebut menyatakan pada 2021 bahwa infrastruktur itu akan mencakup seluruh negeri pada akhir 2025.
Dengan jaringan SA yang sudah tersedia secara nasional, operator mulai memigrasikan pelanggan mereka dari layanan NSA ke SA pada tahun 2026. Proses migrasi ini berlangsung secara bertahap dengan kecepatan yang berbeda antar operator.
M1 dan StarHub tercatat sebagai operator yang paling cepat menyelesaikan transisi. StarHub resmi menonaktifkan jaringan 5G-NSA pada 31 Mei, sementara M1 mengonfirmasi seluruh situs 5G mereka kini beroperasi dengan SA.
M1 juga mendukung operator virtual (MVNO) yang menggunakan infrastrukturnya, seperti Circles.Life yang sudah memanfaatkan 5G-SA, serta MyRepublic yang masih menggunakan 4G. Kedua operator ini berbagi infrastruktur melalui Antina, perusahaan patungan mereka.
Sementara itu, Singtel mengklarifikasi bahwa jaringan 5G NSA miliknya resmi dihentikan pada 30 Juni. Namun, perusahaan induk Simba, Tuas Limited, belum memberikan tanggapan terkait jadwal transisi mereka.
Beberapa analis memperkirakan transisi industri dari jaringan NSA ke SA akan selesai pada pertengahan 2026. Namun, kepastian waktu masih bergantung pada kesiapan masing-masing operator.
Baca Juga:
Peralihan ini menyoroti posisi spektrum Simba yang relatif terbatas. Analis DBS Research Group, Sachin Mittal, mengatakan spektrum 5G-SA Simba lebih tipis dibanding operator lain di Singapura.
Dengan basis pelanggan aktif yang terus bertambah, kapasitas spektrum yang tipis berpotensi menyebabkan konektivitas internet dalam ruangan yang tidak merata bagi pelanggan Simba. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator keempat tersebut.
Transisi ini terjadi saat industri telekomunikasi Singapura menghadapi tekanan margin keuntungan akibat persaingan harga yang ketat. Laporan Maybank Research pada 2025 mencatat pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) turun 36-41 persen sejak 2017.
ARPU Singapura kini 15 hingga 40 persen di bawah negara berkembang Asia-Pasifik lainnya. Harga saham operator lokal juga tertekan, dengan saham Singtel turun 3,1 persen dan StarHub turun 9,7 persen sepanjang tahun ini.
Meski demikian, pasar telekomunikasi mungkin mendapatkan kelegaan melalui konsolidasi. Analis memperkirakan merger antara M1 dan StarHub masih mungkin terjadi, didukung oleh perjanjian berbagi jaringan antara kedua operator.
Di sisi lain, merger antara Singtel dan Simba dinilai tidak mungkin terjadi karena posisi dominan Singtel di pasar. Data Bloomberg Intelligence menunjukkan Singtel memimpin pangsa pasar 43 persen, diikuti M1 (22 persen), StarHub (21 persen), dan Simba (14 persen).
Perkembangan ini menjadi catatan penting bagi industri telekomunikasi global, termasuk Indonesia yang juga terus mendorong penetrasi 5G secara global. Keberhasilan Singapura bisa menjadi referensi bagi negara-negara lain yang tengah mengembangkan infrastruktur 5G-SA.
Ke depannya, persaingan di pasar telekomunikasi Singapura diprediksi semakin ketat seiring dengan hadirnya layanan 5G-SA yang lebih canggih. Operator dituntut untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan demi mempertahankan pangsa pasar.