Jakarta, 13 Agustus 2026 — Technologue.id sukses menggelar Technologue Awards 2026, ajang penghargaan yang menjadi bentuk apresiasi kepada para pelaku industri telekomunikasi dan teknologi atas kiprah, inovasi, serta kontribusinya dalam mendorong perkembangan ekosistem digital di Indonesia.
Penyelenggaraan Technologue Awards tahun ini terasa semakin istimewa karena menjadi bagian dari perayaan ulang tahun Technologue.id ke-10, yang genap satu dekade pada 1 Juni 2026. Selama satu dekade, Technologue.id tidak hanya mengikuti perkembangan industri teknologi, tetapi juga berupaya menjadi bagian dari perubahan tersebut. Perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat mendorong media teknologi untuk terus berevolusi, baik dalam menyajikan informasi maupun menghadirkan berbagai program yang mempertemukan industri, komunitas, dan masyarakat.
Founder sekaligus Chief Editor Technologue.id, Denny Mahardy, mengatakan bahwa perjalanan Technologue.id selama satu dekade bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan teknologi yang sangat cepat membuat Technologue.id harus terus berevolusi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Perjalanannya tidak mudah. Teknologi juga berubah dan berkembang dengan sangat pesat. Waktu juga kemudian harus berevolusi untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Persaingan di industri teknologi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang menghadirkan spesifikasi paling tinggi. Pengalaman pengguna, inovasi, ekosistem, keamanan, kemudahan penggunaan, hingga dampak teknologi terhadap kehidupan masyarakat menjadi faktor yang semakin penting,” kata Denny.
Kategori penghargaan yang dihadirkan tahun ini juga mencerminkan semakin luasnya penetrasi teknologi dalam kehidupan masyarakat. Penghargaan tidak hanya mencakup smartphone dan perangkat teknologi, tetapi juga merambah layanan digital, financial technology, pembayaran digital, connectivity, e-commerce, hingga berbagai produk dan layanan yang mendukung gaya hidup masyarakat modern.
Menurut Denny, evolusi tersebut membuat Technologue.id tidak lagi hanya berperan sebagai media komunikasi dan penyampai informasi mengenai teknologi. Technologue.id juga mulai mengembangkan berbagai aktivitas yang mempertemukan pelaku industri dan masyarakat melalui workshop, pelatihan, hingga kegiatan networking industri.
Di tengah perubahan tersebut, tantangan baru juga muncul seiring dengan semakin masifnya perkembangan artificial intelligence (AI). Kehadiran AI dinilai dapat mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pekerjaan dan pola interaksi manusia dengan teknologi. Perubahan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. AI justru perlu dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu masyarakat dan industri berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Apalagi di era AI saat ini, ketika banyak pekerjaan bisa berubah dan peluang yang selama ini ada bisa hilang. Kami berusaha membuat AI membantu kita berkembang mengikuti zaman. Kita ingin berkembang bersama-sama memanfaatkan AI agar tidak ketinggalan. Kita juga ingin bisa membersamai teman-teman kita dan anak-anak kita menggunakan teknologi dengan positif,” tutur Denny.
Semangat tersebut juga menjadi salah satu alasan Technologue.id menghadirkan rangkaian kegiatan edukasi dan diskusi mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk talkshow "Parenting in AI Era" yang membahas bagaimana masyarakat, khususnya orang tua dan anak, dapat menghadapi perkembangan AI secara positif dan bertanggung jawab.
Rita Amaliani selaku Direktur Pendidikan Yayasan Bangun Mandiri dalam diskusi mengenai Parenting in AI Era menjelaskan bahwa kehadiran AI semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu mengerjakan tugas sekolah, tetapi juga mulai dimanfaatkan orang tua untuk mendampingi proses belajar dan perkembangan anak.
Bagi tenaga pendidik, tantangan sekolah di era AI bukan sekadar menentukan boleh atau tidaknya anak menggunakan teknologi tersebut. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak agar dapat menggunakan AI secara bijak. Anak perlu mengetahui bahwa teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi tidak boleh menggantikan rasa ingin tahu, kreativitas, interaksi sosial, dan tanggung jawab pribadi.
“Guru dapat membantu anak memahami bahwa AI merupakan alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir. Anak perlu tetap melakukan observasi, berdiskusi, bereksperimen, membaca berbagai sumber, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Sementara itu, orang tua dapat memperkuat kebiasaan tersebut di rumah dengan mengajak anak berdiskusi mengenai jawaban yang diberikan AI dan mempertanyakan apakah informasi tersebut benar atau tidak,” kata Ms Rita.
dr. Adilla Hikma Zakiati, Founder Klinik Rainbow Castle menekan paparan teknologi sejak usia terlalu dini perlu menjadi perhatian. Penggunaan smartphone, chatbot, maupun berbagai bentuk AI secara berlebihan dikhawatirkan dapat mengurangi kesempatan anak untuk mendapatkan pengalaman interaksi manusia secara langsung.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah perkembangan prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam sejumlah fungsi penting seperti pengambilan keputusan, pengendalian diri, pemecahan masalah, serta kemampuan memahami perspektif orang lain. Ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan manusia, pengalaman membaca ekspresi dan respons emosional orang lain juga bisa menjadi lebih terbatas.
“Dalam kehidupan nyata, anak perlu belajar bahwa ekspresi manusia tidak selalu mudah ditebak. Seseorang bisa tersenyum tetapi sedang sedih. Seseorang bisa diam karena kecewa. Bahkan gerakan kecil seperti tatapan mata, perubahan ekspresi, atau bahasa tubuh dapat memberikan informasi mengenai perasaan seseorang. Jika anak terlalu sering menerima realitas maya semacam itu tanpa pendampingan, terdapat kekhawatiran anak semakin sulit membedakan ekspresi digital dengan ekspresi manusia yang sebenarnya,” ujar dr Adilla Hikmah Zakiati.
Senada dengan hal tersebut, Head of Communications Reasense, Didit Putra Erlangga, menerangkan bahwa AI memiliki keterbatasan mendasar karena tidak mampu menggantikan hubungan sosial dan empati yang terbentuk melalui interaksi manusia secara langsung. AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kehadiran orang tua.
“Persoalan utama bukan terletak pada kehadiran AI dalam kehidupan keluarga. Teknologi justru dapat memberikan manfaat jika digunakan secara tepat. Yang perlu diwaspadai adalah ketika AI digunakan secara berlebihan hingga mengurangi interaksi manusia yang seharusnya menjadi bagian penting dalam perkembangan anak,” tutur Didit.
Berikut ini nama-nama brand yang meraih penghargaan di Technologue Award 2026:
SMARTPHONE CATEGORY
Best Camera Smartphone: OPPO FIND X9 ULTRA
Best Gaming Smartphone: POCO X8 Pro
Best Mid-range Smartphone: REDMI Note 15 Pro+ 5G
Best Foldable Smartphone: SAMSUNG GALAXY Z FOLD7
TELCO CATEGORY
Best Network Quality: INDOSAT OOREDOO HUTCHISON
Best 5G Experience: XL SMART
Best Network Coverage: TELKOMSEL
Best Fiber Services: BIZNET
NOTEBOOK CATEGORY
Best Affordable Notebook: AXIOO Hype 5
Best Value Notebook: AXIOO Hype 5 AI
Best Gaming Notebook: ASUS ROG Zephyrus G14
Best Business Notebook: ASUS ExpertBook P5
Best Innovation Notebook: ASUS ExpertBook Ultra
BRAND CATEGORY
Best Telco Brand: TELKOM
Best Smartphone Brand: OPPO
Best Digital Payment Service: DANA
Best Notebook Brand: ASUS
Best Smartwatch Brand: GARMIN