Jakarta – Sejumlah keluarga di Amerika Serikat mulai beralih menggunakan teknologi pintar untuk merawat anggota keluarga lanjut usia (lansia) di rumah. Langkah ini diambil sebagai alternatif dari biaya mahal fasilitas perawatan jangka panjang yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Karen Murray, seorang perempuan berusia 60 tahun, merawat ibunya yang berusia 93 tahun, Marion, dari jarak jauh. Marion memiliki gangguan kognitif dan tinggal di fasilitas hunian berbantuan di New Jersey, Amerika Serikat.

Setiap pagi, Karen menyalakan televisi di kamar Marion melalui aplikasi di ponselnya. Ia juga bisa menanyakan tayangan yang ingin ditonton ibunya, seperti film Judy Garland atau serial "Gunsmoke" era 1960-an.

Semua itu bisa dilakukan berkat perangkat JubileeTV. TV pintar ini tampak seperti televisi biasa, namun memiliki kamera internal yang memungkinkan pengasuh melihat kondisi lansia dari jarak jauh.

Biaya berlangganan JubileeTV sekitar 100 dolar AS per bulan. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan biaya fasilitas perawatan yang bisa mencapai 10.000 dolar AS per bulan.

Teknologi serupa juga mulai merambah ke berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Kulkas, oven, mesin cuci, hingga pancuran air kini dilengkapi fitur kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola dan keanehan aktivitas pengguna.

Misalnya, Samsung menghadirkan kulkas dengan kamera untuk memantau stok makanan. Sementara iGuardStove memiliki sistem mati otomatis jika kompor ditinggalkan dalam keadaan menyala.

Perangkat pintar ini tidak hanya membantu lansia, tetapi juga memberikan ketenangan bagi keluarga. Mark Benson dari Samsung SmartThings menegaskan bahwa teknologi bertujuan mendukung, bukan menggantikan, hubungan manusia dalam proses perawatan.

Meski menjanjikan, teknologi ini masih memiliki sejumlah kendala. Biaya perangkat seperti JubileeTV mencapai 789 dolar AS dengan langganan tahunan 389 dolar AS. Sementara peralatan Samsung bisa melebihi 3.000 dolar AS.

Lori Bufka, 64 tahun, memilih memindahkan ibunya yang berusia 88 tahun ke rumah mungil di samping rumahnya di Arizona. Ia memasang kamera Blink dan Amazon Alexa untuk memantau kondisi ibunya yang sering jatuh.

Bufka mengaku teknologi sangat membantu. Ia bisa memeriksa kondisi ibunya tiga hingga empat kali semalam tanpa harus beranjak dari tempat tidur.

Namun, tidak semua lansia nyaman dengan teknologi. Beberapa keluarga justru merasa khawatir soal privasi, keandalan, dan ketergantungan berlebih pada perangkat pintar.

Yu Sun dari University of South Florida menekankan bahwa teknologi harus mudah digunakan. Jika terlalu rumit, lansia cenderung enggan mengadopsinya dalam jangka panjang.

Sara Czaja dari Weill Cornell Medicine menambahkan bahwa banyak produk pintar yang belum teruji secara klinis. Beberapa di antaranya hanya mengandalkan stereotip atau hype tanpa mempertimbangkan aksesibilitas.

Meski demikian, para ahli sepakat bahwa perhatian terhadap teknologi untuk lansia adalah langkah positif. Inovasi ini diharapkan bisa membantu jutaan lansia untuk tetap mandiri dan bermartabat di rumah mereka sendiri.