Technologue.id, Jakarta – Truecaller mulai memperluas layanan keamanan digitalnya. Setelah lebih dari satu dekade dikenal sebagai aplikasi identifikasi penelepon (caller ID), perusahaan asal Swedia tersebut kini menghadirkan Scam Checker, layanan yang memungkinkan pengguna memeriksa nomor telepon, tautan, hingga pesan mencurigakan tanpa perlu mengunduh aplikasi atau masuk ke akun.

Scam Checker diluncurkan pada Minggu sebagai layanan berbasis web dan Android. Pengguna cukup memasukkan nomor telepon, tautan, atau isi pesan yang dianggap mencurigakan untuk mengetahui apakah informasi tersebut memiliki indikasi penipuan.

Layanan ini memanfaatkan laporan dari komunitas Truecaller melalui ScamFeed, kanal berbasis komunitas yang digunakan pengguna untuk melaporkan dan membahas berbagai modus penipuan.

Cara kerja Scam Checker cukup sederhana. Ketika pengguna memasukkan sebuah tautan, sistem akan memeriksa URL tersebut, termasuk memperluas shortened URL dan mengikuti berbagai redirect hingga mencapai tujuan akhirnya.

Setelah itu, Truecaller akan mencocokkan hasil pemeriksaan dengan basis data risiko miliknya serta sejumlah indikator lain yang berkaitan dengan penipuan.

Pengguna juga dapat memasukkan pesan mencurigakan. Sistem kemudian akan mencari nomor telepon atau tautan yang terdapat di dalam pesan tersebut dan menampilkan laporan yang relevan dari komunitas Truecaller.

Namun, ada batasan pada informasi yang diberikan. Detail lebih lengkap mengenai sebuah nomor telepon, termasuk identitas pemiliknya, tetap tersedia melalui layanan Truecaller utama yang mengharuskan pengguna masuk ke akun.

Scam Checker tersedia secara gratis. Untuk tahap awal, layanan ini diluncurkan di India, yang merupakan salah satu pasar terbesar Truecaller.

Perusahaan berencana memperluas ketersediaannya ke sejumlah wilayah lain, termasuk Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika, serta Asia Tenggara.

Menurut Truecaller, kehadiran Scam Checker juga didorong oleh kebiasaan masyarakat yang semakin sering mencari informasi di internet ketika menerima sesuatu yang mencurigakan.

CEO Truecaller Rishit Jhunjhunwala mengatakan, masyarakat biasanya melakukan pencarian ketika menemukan tautan atau pesan yang belum mereka yakini kebenarannya.

"Saat Anda membutuhkannya, biasanya Anda sedang berada di tempat lain. Tautan muncul di WhatsApp. Ibu Anda menerima pesan tentang denda lalu lintas. Seorang teman meneruskan tangkapan layar kepada Anda dan bertanya, 'Apakah ini asli?'," kata Jhunjhunwala.

Menurutnya, salah satu hal yang dilakukan orang dalam situasi tersebut adalah mencari informasi untuk memastikan apakah pesan atau tautan tersebut aman.

Truecaller memperkirakan terdapat sekitar 14 juta pencarian web setiap bulan untuk memeriksa tautan dan nomor telepon mencurigakan. Angka tersebut berasal dari analisis perusahaan terhadap volume pencarian dan lalu lintas pada layanan verifikasi yang telah dimilikinya.