Technologue.idJakarta - Elon Musk dilaporkan masih berutang pembayaran sebesar US$420 atau Rp7,4 jutaan kepada sejumlah karyawan xAI setelah perusahaan meminta data pajak pribadi mereka untuk melatih chatbot AI Grok.

Menurut laporan Bloomberg, Musk sebelumnya menjanjikan bonus tunai tersebut kepada para karyawan awal tahun ini apabila mereka bersedia menyerahkan dokumen pajak pribadi sebagai data pelatihan untuk meningkatkan kemampuan AI Grok menjelang tenggat pelaporan pajak di Amerika Serikat pada 15 April.

Langkah tersebut disebut sebagai upaya xAI untuk memperkuat kemampuan Grok dalam membantu urusan perpajakan. Saat ini, banyak pengguna memanfaatkan chatbot AI untuk membantu penyusunan pajak, meski sebagian besar pengguna masih lebih memilih layanan seperti OpenAI ChatGPT maupun Claude dibanding Grok.

Bloomberg melaporkan bahwa para manajer perusahaan menawarkan bonus tunai US$420 kepada karyawan yang bersedia menyerahkan laporan pajak lengkap beserta dokumen pendukung dari tahun ini atau tahun sebelumnya. Selain uang tunai, karyawan juga dijanjikan akses awal ke X Money, platform pembayaran milik jejaring sosial X yang hingga kini belum resmi diluncurkan.

Beberapa karyawan disebut telah menyerahkan data sensitif tersebut. Namun hingga beberapa bulan berlalu, pembayaran yang dijanjikan belum juga diterima.

Saat para staf mempertanyakan bonus tersebut, mereka dikabarkan mendapat informasi bahwa manajer yang menangani program itu sudah tidak lagi bekerja di perusahaan. Hingga kini, xAI belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Laporan ini juga kembali menyoroti pendekatan kontroversial Elon Musk terhadap penggunaan data dan insentif internal perusahaan. Penggunaan dokumen pajak sebagai materi pelatihan AI memunculkan kekhawatiran terkait privasi dan keamanan data sensitif pengguna.

Selain itu, nominal bonus sebesar US$420 juga menarik perhatian publik. Angka tersebut dikenal sebagai referensi budaya populer terkait ganja yang kerap digunakan Musk dalam berbagai kesempatan.

Sebelumnya, Musk pernah memicu kontroversi ketika menulis di media sosial bahwa ia telah memperoleh pendanaan untuk membeli seluruh saham Tesla dengan harga US$420 per saham. Unggahan itu sempat memicu gejolak pasar hingga perdagangan saham Tesla dihentikan sementara oleh NASDAQ dan berujung pada gugatan penipuan sekuritas dari SEC.

Meski demikian, pengadilan akhirnya memutuskan Musk tidak bertanggung jawab atas kerugian investor terkait unggahan tersebut.