Technologue.id, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar bagi dunia bisnis, tetapi di saat yang sama juga meningkatkan tantangan keamanan siber. Seiring semakin banyaknya perangkat yang terhubung ke jaringan perusahaan, organisasi dituntut untuk memastikan seluruh endpoint terlindungi guna mencegah kebocoran data yang berpotensi menimbulkan kerugian finansial maupun sanksi hukum.
President Director Ingram Micro Indonesia, Mulia Dewi Karnadi menekankan bahwa era AI membuat pendekatan keamanan tradisional tidak lagi cukup. Seluruh perangkat yang mengakses data perusahaan, mulai dari komputer, smartphone, tablet hingga perangkat Internet of Things (IoT), harus menjadi bagian dari strategi perlindungan yang terintegrasi.
"Di era AI, mau tidak mau semua endpoint atau access device harus bisa terproteksi. Kalau tidak terlindungi, risikonya sangat besar," ujar Dewi dalam acara pengumuman kerja sama Ingram Micro dan Hexnode di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Ancaman serangan siber kini tidak hanya berdampak pada operasional, tetapi juga memengaruhi kondisi finansial perusahaan. Berdasarkan statistik yang dipaparkan, rata-rata satu insiden kebocoran data (data breach) dapat menyebabkan kerugian sekitar US$2 juta hingga US$2,4 juta untuk setiap kasus.
Kerugian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari proses pemulihan sistem, investigasi keamanan, gangguan operasional, hingga potensi kehilangan kepercayaan pelanggan.
Situasi ini dinilai semakin relevan di Indonesia, mengingat dalam beberapa tahun terakhir sejumlah perusahaan besar, termasuk sektor perbankan dan telekomunikasi, beberapa kali menjadi sorotan akibat insiden kebocoran data.
Selain ancaman serangan siber, perusahaan juga harus mematuhi regulasi nasional mengenai perlindungan data pribadi.
Dalam presentasi tersebut dijelaskan bahwa Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), yang mengharuskan organisasi menjaga keamanan data pribadi pelanggan maupun pengguna.
Meski aturan teknis dan implementasi pemerintah masih terus berkembang, perusahaan dinilai tidak dapat menunggu seluruh petunjuk pelaksanaan selesai sebelum mulai memperkuat sistem keamanan.
Pasalnya, pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan data dapat dikenai sanksi administratif maupun finansial.
Salah satu poin yang disoroti adalah potensi denda yang dapat mencapai 2% dari total omzet perusahaan, bukan dari keuntungan, apabila perusahaan terbukti tidak memiliki proses yang memadai dalam melindungi data pribadi.
Menghadapi ancaman yang semakin kompleks, Hexnode menilai pendekatan Zero Trust menjadi strategi keamanan yang perlu diterapkan perusahaan modern.
Berbeda dengan pendekatan reaktif yang baru bertindak setelah insiden terjadi, Zero Trust mengedepankan langkah proaktif dengan menganggap tidak ada perangkat maupun pengguna yang otomatis dipercaya meskipun berada di dalam jaringan internal perusahaan.
Pendekatan ini memungkinkan setiap akses diverifikasi secara berlapis sehingga risiko penyalahgunaan akun maupun penyusupan perangkat dapat ditekan.
Menurut pemaparan tersebut, langkah proaktif jauh lebih efektif dibandingkan harus menanggung dampak finansial besar akibat kebocoran data.
Sebagai solusi untuk mendukung implementasi Zero Trust, Hexnode menawarkan platform Unified Endpoint Management (UEM).
Teknologi ini merupakan evolusi dari Mobile Device Management (MDM) yang kini mampu mengelola berbagai jenis perangkat dalam satu sistem terpadu.
Hexnode menyebut pasar UEM masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Segmen ini diperkirakan mengalami pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 28%, menjadikannya salah satu sektor keamanan TI dengan perkembangan tercepat dalam beberapa tahun ke depan.
Nilai pasar globalnya juga disebut telah melampaui US$3 miliar, sehingga dianggap sebagai peluang bisnis yang menjanjikan bagi para mitra solusi TI.
Salah satu keunggulan yang ditawarkan Hexnode adalah kemampuan mengelola berbagai sistem operasi melalui satu platform.
Platform UEM milik perusahaan diklaim mampu mendukung hingga sembilan sistem operasi dan platform, termasuk Windows, macOS, Android, serta berbagai perangkat IoT yang menggunakan sistem operasi berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, administrator TI tidak lagi harus berpindah-pindah dashboard untuk mengelola perangkat dari vendor yang berbeda, sehingga proses administrasi keamanan menjadi lebih sederhana dan efisien.
Selain itu, Hexnode menyatakan posisinya telah diakui oleh sejumlah lembaga riset industri seperti Gartner, IDC, dan Forrester, yang menjadi salah satu nilai tambah ketika menawarkan solusi kepada pelanggan perusahaan.