Jakarta, Technologue.id — Industri robotika global mencatat volume penjualan robot humanoid untuk sektor industri dan layanan profesional mencapai sekitar 7.000 unit sepanjang tahun lalu. Angka ini terungkap berdasarkan data resmi International Federation of Robotics (IFR) yang dihimpun oleh Reuters. Meski investasi bernilai miliaran dolar AS terus mengalir, realisasi penjualan robot humanoid masih sangat kecil dibanding populasi robot global.

Data tersebut menjadi catatan penting bagi industri yang tengah berlomba mengembangkan robot berwujud manusia. IFR menyebut pendataan khusus robot humanoid ini merupakan langkah perdana sepanjang tiga dekade mengumpulkan statistik robotika dunia. Langkah itu diambil seiring meningkatnya perhatian global terhadap potensi robot humanoid, terutama di pasar Tiongkok.

Sekretaris Jenderal IFR yang berbasis di Frankfurt, Susanne Bieller, mengungkapkan sebagian besar robot humanoid yang terjual tahun lalu belum digunakan untuk pekerjaan produksi secara penuh. Menurutnya, banyak unit dibeli oleh lembaga penelitian atau perusahaan teknologi untuk mengumpulkan data demi menyempurnakan model kecerdasan buatan (AI).

“Pabrikan otomotif sebagai pengadopsi awal saat ini masih dalam tahap uji coba dengan jumlah yang relatif terbatas, berkisar dari angka tunggal hingga belasan unit di pabrik mereka,” ujar Susanne Bieller. Pernyataan itu menegaskan bahwa adopsi robot humanoid di lini produksi sesungguhnya belum memasuki fase masif.

IFR menetapkan kriteria khusus untuk mengategorikan sebuah mesin sebagai robot humanoid. Perangkat tersebut wajib memiliki tampilan fisik menyerupai manusia dan mampu beroperasi secara mandiri di lingkungan yang dirancang untuk manusia. Keberadaan komponen kaki tidak diwajibkan dalam definisi tersebut.

Statistik ini mengesampingkan robot humanoid kategori konsumen dan militer. Sementara itu, robot medis diklasifikasikan secara terpisah dalam pendataan IFR. Pemisahan kategori ini membuat angka 7.000 unit hanya mencerminkan segmen industri dan layanan profesional.

Jika dibandingkan dengan segmen robotika lain, angka 7.000 unit tergolong amat kecil. Data IFR mencatat instalasi robot industri konvensional mencapai sekitar 542.000 unit pada 2024. Pada periode yang sama, penjualan robot layanan untuk sektor transportasi, perhotelan, dan kebersihan diperkirakan menyentuh angka 199.000 unit.

Kesenjangan itu menunjukkan robot humanoid masih berada di tahap awal kurva adopsi. Meski demikian, sejumlah pabrikan otomotif dunia telah menjajaki penggunaan robot humanoid di lini perakitan. Langkah uji coba tersebut menjadi sinyal bahwa minat industri terhadap teknologi ini terus tumbuh.

Di sisi lain, kehadiran robot humanoid di sektor otomotif juga memunculkan dinamika tersendiri. Sejumlah serikat pekerja menyoroti potensi pergeseran tenaga kerja seiring masuknya mesin berwujud manusia ke area produksi. Isu ini menjadi perdebatan yang menyertai percepatan adopsi teknologi robotika.

Perkembangan robot humanoid juga mulai merambah pameran otomotif di Indonesia. Ajang IIMS 2026 menjadi panggung bagi sejumlah pengembang untuk memperkenalkan asisten berbasis robotika. Kehadiran teknologi ini memperlihatkan integrasi antara otomotif dan robotika kian nyata.

Laporan Bank of America Global Research memproyeksikan pengiriman robot humanoid akan mengalami lonjakan tajam. Dari perkiraan 90.000 unit pada tahun ini, angka tersebut diprediksi menembus 1,2 juta unit pada 2030 mendatang. Lonjakan itu didorong pesatnya pengembangan teknologi AI serta demonstrasi kemampuan robot yang kian kompleks.

Proyeksi tersebut menjelaskan mengapa banyak perusahaan teknologi tetap mengucurkan investasi besar. Meski penjualan saat ini masih kecil, potensi jangka panjang dinilai menjanjikan. Pengembangan AI menjadi katalis utama yang mempercepat kemampuan robot humanoid dalam menjalankan tugas.

Pasar Tiongkok menjadi salah satu faktor penting dalam peta adopsi robot humanoid. Negara itu merupakan pasar robot industri terbesar di dunia dan terus memperluas penggunaan otomasi. Posisi tersebut membuat Tiongkok menjadi barometer pertumbuhan robot humanoid global.

Bagi industri dalam negeri, data IFR ini menjadi cermin bahwa adopsi robot humanoid belum menjadi arus utama. Pelaku manufaktur masih mengandalkan robot industri konvensional untuk kebutuhan produksi. Namun, perkembangan global patut dicermati sebagai arah tren ke depan.

Dengan hanya 7.000 unit terjual, robot humanoid belum menggantikan peran robot industri konvensional. Fase saat ini lebih tepat disebut sebagai tahap eksplorasi dan pengumpulan data. IFR pun menegaskan bahwa realisasi penjualan masih jauh dari skala populasi robot global.

Ke depan, kombinasi antara kematangan AI dan kebutuhan otomasi akan menentukan laju adopsi robot humanoid. Jika proyeksi Bank of America terealisasi, lompatan pengiriman bisa terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Namun untuk saat ini, dominasi robot humanoid di sektor industri masih tergolong rendah.