Technologue.id, Jakarta – Qualcomm dikabarkan akan menaikkan harga sejumlah produknya dengan besaran hingga persentase dua digit mulai September 2026. Kebijakan ini berpotensi berdampak pada harga berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone premium, laptop berbasis AI, hingga perangkat wearable yang menggunakan chipset buatan perusahaan tersebut.

Laporan Bloomberg menyebut Qualcomm telah mengirimkan pemberitahuan kepada para pelanggannya mengenai perubahan harga tersebut. Kenaikan akan berlaku untuk seluruh produk yang dikirim setelah 1 September 2026.

Dalam surat tersebut, Qualcomm menjelaskan bahwa perusahaan tidak lagi mampu menyerap kenaikan biaya komponen dari para pemasoknya. Selama beberapa waktu terakhir, perusahaan juga telah berupaya mencari pemasok alternatif untuk menekan biaya produksi, namun tantangan rantai pasokan masih menjadi kendala utama.

Sebagian besar chip Qualcomm diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), yang saat ini disebut tengah menghadapi tekanan pada rantai pasokan akibat tingginya permintaan industri semikonduktor.

Qualcomm merupakan salah satu pemasok chipset terbesar di dunia, khususnya untuk perangkat Android kelas premium. Chipset Snapdragon miliknya digunakan oleh berbagai produsen smartphone, termasuk Samsung pada lini Galaxy, seperti Galaxy Z Fold 8 Ultra, Galaxy Z Fold 8, dan Galaxy Z Flip 8.

Tak hanya smartphone, prosesor Qualcomm juga menjadi otak bagi sejumlah PC berbasis Microsoft Copilot+ serta berbagai perangkat wearable, termasuk kacamata pintar dalam lini Ray-Ban Meta.

Dengan cakupan produk yang luas, kenaikan harga chipset Qualcomm berpotensi mendorong produsen perangkat untuk menyesuaikan harga jual produk mereka apabila biaya produksi meningkat.

Menurut Bloomberg, Qualcomm bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi tekanan biaya. Industri teknologi secara keseluruhan masih terdampak kelangkaan memori dan sejumlah komponen penting yang dipicu oleh melonjaknya permintaan untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan investasi AI membuat kapasitas produksi semikonduktor semakin terbatas, sehingga banyak produsen chip harus bersaing mendapatkan pasokan komponen.