Jakarta — Perusahaan media milik keluarga Trump, Trump Media & Technology Group Corp., melaporkan kerugian bersih sebesar USD 405,9 juta atau sekitar Rp 6,5 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Kerugian tersebut sebagian besar dipicu oleh posisi kripto yang belum direalisasi di tengah Tren Penurunan Harga Kripto yang signifikan.

Perusahaan yang menaungi platform Truth Social itu merilis laporan keuangan kuartal pertama 2026 pada Jumat lalu. Meski mencatat arus kas operasional positif sebesar USD 17,9 juta, perusahaan harus menanggung beban kerugian besar dari investasi aset digitalnya.

Hampir USD 370 juta dari total kerugian tersebut berasal dari liabilitas yang belum direalisasi pada aset kripto dan ekuitas. Angka ini melonjak drastis karena perusahaan membeli Bitcoin saat pasar berada di puncaknya pada musim panas tahun lalu.

Saat ini, Trump Media memiliki lebih dari 9.500 Bitcoin dalam kas perusahaan. Aset digital tersebut dibeli pada Juli lalu dengan harga rata-rata USD 108.519 per koin, berdasarkan data dari CoinGecko.

Pada akhir Februari, perusahaan menjual 2.000 Bitcoin ketika harga mata uang digital tersebut berada di kisaran USD 70.000. Keputusan ini diambil saat pasar sedang mengalami tekanan jual yang besar.

Saat ini, harga Bitcoin berada di sekitar USD 80.000 setelah mengalami fluktuasi dramatis sepanjang tahun lalu. Koin digital ini sempat menyentuh puncak USD 126.000 pada Oktober sebelum anjlok ke USD 60.000 pada awal Februari.

CEO Trump Media, Devin Nunes, mantan anggota Kongres Partai Republik dari California, mengundurkan diri pada 22 April lalu. Kepemimpinan baru diharapkan dapat membawa perubahan strategi bagi perusahaan yang sedang terpuruk.

Saham perusahaan telah ambles lebih dari 90 persen sejak awal 2022, ketika harganya sempat melonjak hingga USD 97,54. Kini, harga saham Trump Media berada di level USD 8,93 per lembar.

Trump Media merupakan induk dari jejaring sosial yang diluncurkan Presiden Trump setelah dilarang menggunakan Twitter pasca kerusuhan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS. Platform ini menjadi alternatif bagi para pendukungnya.

Laporan keuangan ini menunjukkan betapa volatilnya investasi kripto bagi perusahaan publik. Trump Media kini memiliki aset keuangan senilai USD 2,1 miliar, tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu.

Namun, lonjakan aset tersebut tidak sebanding dengan kerugian yang harus ditanggung akibat fluktuasi harga Bitcoin. Perusahaan harus mencatatkan kerugian besar meski secara operasional menunjukkan perbaikan.

Fenomena ini mengingatkan pada kasus Peretas Kripto Terbesar yang kembali menjadi sorotan. Industri aset digital masih menghadapi tantangan besar dalam hal regulasi dan stabilitas harga.

Sebelumnya, harga Bitcoin sempat mencatat rekor tertinggi pada Oktober tahun lalu. Namun, Harga Bitcoin yang sempat meroket kini harus terkoreksi tajam, mempengaruhi kinerja perusahaan yang memegang aset tersebut.

Para analis memperingatkan bahwa perusahaan yang terlalu bergantung pada investasi kripto rentan terhadap gejolak pasar. Strategi diversifikasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian di masa depan.

Ke depan, Trump Media diharapkan dapat menyeimbangkan portofolio investasinya. Fokus pada bisnis inti media sosial mungkin menjadi prioritas untuk memulihkan kepercayaan investor.