Technologue.id, Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas di berbagai organisasi. Teknologi ini membantu meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang baru bagi pelaku serangan siber untuk bekerja lebih cepat. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperkuat strategi keamanan, bukan sekadar membatasi penggunaan AI.

Dalam pemaparannya, Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia menjelaskan bahwa perkembangan AI menghadirkan tantangan baru bagi organisasi. Perusahaan perlu membangun pendekatan keamanan yang sejalan dengan kebutuhan produktivitas. Penggunaan AI harus diiringi pemahaman mengenai risiko, tata kelola, dan perlindungan data.

“Adopsi AI memang sangat banyak di perusahaan-perusahaan. Bahkan, banyak yang menggunakannya sebelum memikirkan bagaimana cara menjaganya,” ujarnya.

Menurutnya, melarang atau memblokir penggunaan AI bukan solusi yang selalu efektif. Karyawan tetap dapat mencari cara lain untuk memanfaatkan teknologi tersebut, misalnya menggunakan perangkat pribadi.

Perbedaan antara penyerang dan pihak yang bertahan menjadi salah satu tantangan utama dalam keamanan siber. Organisasi harus menjaga banyak titik akses, sementara penyerang hanya perlu menemukan satu celah untuk masuk.

“Kalau penyerang itu cuma perlu fokus cari bolongnya di mana. Dia masuk satu pintu itu sudah berhasil,” jelasnya.

Ia mengibaratkan pertahanan siber seperti menjaga sebuah bangunan dengan banyak pintu, jendela, dan akses lainnya. Seluruh titik tersebut harus diamankan karena serangan dapat datang dari berbagai arah.

Sebaliknya, penyerang tidak perlu menguasai seluruh sistem. Cukup dengan menemukan kelemahan pada salah satu akses, mereka dapat memperoleh jalan masuk ke lingkungan organisasi.

Menurutnya, AI dapat membantu menyeimbangkan kondisi tersebut dengan mempercepat kemampuan tim pertahanan dalam mengidentifikasi dan merespons ancaman.

Perkembangan ancaman siber juga tercermin dari berbagai kasus yang dihadapi organisasi di Indonesia. Penipuan digital, phishing, ransomware, dan pencurian data menjadi sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.

Penipuan digital dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari telepon mencurigakan, pengiriman kode OTP, hingga email phishing yang mengarahkan korban ke situs atau layanan berbahaya.

Sementara itu, serangan ransomware dapat mengenkripsi data organisasi dan mengancam korban agar membayar tebusan. Dalam sejumlah kasus yang ditangani Ensign, pelaku juga disebut mengeluarkan data dari sistem korban dan menggunakannya sebagai tekanan tambahan.

Pencurian data turut menjadi persoalan karena informasi yang seharusnya dilindungi dapat diambil dan diperjualbelikan.

Dalam pemaparannya, perwakilan Ensign menyebut angka kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp7,5 triliun. Ia juga menyampaikan angka 5,5 juta serangan siber yang tercatat pada 2025 serta 89% perusahaan lokal yang dinilai belum siap menghadapi serangan siber.

Angka-angka tersebut perlu dilihat berdasarkan sumber, definisi, dan cakupan pengukurannya. Namun, berbagai bentuk serangan tersebut menunjukkan bahwa organisasi perlu meningkatkan kesiapan keamanan siber, terutama ketika penggunaan AI terus berkembang.

Adithya juga menyoroti perkembangan frontier AI, yakni model kecerdasan buatan canggih yang memiliki kemampuan luas dalam memahami informasi, menghasilkan konten, dan menjalankan tugas kompleks.

Model seperti ChatGPT dan Claude menjadi contoh perkembangan AI generatif yang semakin banyak digunakan. Di sisi lain, model dari China seperti DeepSeek turut disebut sebagai bagian dari perkembangan AI yang menarik perhatian karena efisiensi biaya penggunaannya.

Perkembangan tersebut tidak hanya berpengaruh pada produktivitas perusahaan, tetapi juga menghadirkan risiko baru bagi keamanan siber.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah agentic AI. Berbeda dari penggunaan chatbot yang umumnya mengandalkan percakapan berbasis teks, agentic AI dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat kemandirian lebih tinggi, termasuk membaca file, membuat presentasi, dan menghasilkan kode.

AI jenis ini dapat bekerja secara lebih dinamis. Sistem dapat menulis kode, mencoba menjalankannya, menemukan kegagalan, kemudian melakukan perbaikan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kemampuan tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi perusahaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku serangan siber.

Menurut Adithya, AI membuat pelaku serangan lebih mudah memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan aksinya.

Sebagai contoh, pelaku dapat menggunakan AI untuk mencari tahu perangkat lunak yang digunakan sebuah perusahaan, kemudian mempelajari potensi kelemahan dari perangkat lunak tersebut.

“Sekarang mempermudah di attacker ataupun defender untuk mendapatkan objektifnya, karena tinggal bertanya,” ujarnya.

AI juga memungkinkan seseorang mempelajari hal-hal teknis tanpa harus selalu bergantung pada orang lain. Pelaku dapat mengajukan pertanyaan berulang kali hingga memahami cara kerja suatu sistem atau metode serangan.

Kemudahan ini membuat kemampuan teknis yang sebelumnya membutuhkan waktu belajar lebih lama dapat diakses dengan lebih cepat.