Jakarta, Technologue.id — Legenda golf sekaligus pelatih kelas dunia, Bob Toski, baru saja menginjak usia 100 tahun pada Jumat lalu. Kabar bahagia ini datang dari laporan PGA Tour yang menyebutkan bahwa Toski masih menunjukkan semangat khasnya yang tak pernah pudar. Ia bahkan berencana menari tap di pesta ulang tahunnya sendiri, sebuah momen yang membuktikan bahwa energi dan keceriaannya belum terkikis usia.

Bagi penggemar golf, nama Bob Toski bukan sekadar mantan pemain. Ia adalah sosok yang telah memenangkan lima turnamen PGA Tour dan kemudian menjadi instruktur Hall of Fame PGA of America. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi banyak pegolf, termasuk mereka yang baru belajar dari nol seperti dalam kisah Timothy Ta.

Dalam laporan yang dikutip dari wawancara GOLF Magazine edisi Oktober 2013, Toski dikenal sebagai pribadi yang penuh cerita dan pelajaran. Saat itu ia berusia 87 tahun, namun tetap aktif mengajar dan bermain golf. "Saya tidak peduli seberapa tua saya," ujarnya dengan nada tegas. "Tuhan memberi saya energi, pikiran, dan tubuh, lalu berkata, gunakan sampai habis."

Bob Toski pada tahun 2008

Pada usia 87 tahun, Toski masih mampu mencetak skor 75 dalam satu putaran. Prestasi itu membuatnya menyebut diri sebagai pegolf terbaik di dunia untuk kelompok usianya. "Kalau kamu berusia 87 dan bisa mencetak 75, kamu akan bilang itu luar biasa," katanya. Ia bahkan menantang siapa pun untuk bermain dengannya dengan taruhan besar.

Meski dikenal sebagai pemain hebat, Toski lebih dikenal sebagai guru swing yang brilian. Ia mengkritik metode pengajaran golf modern yang terlalu fokus pada kekuatan tubuh. Menurutnya, ayunan dimulai dari tangan, bukan dari tubuh. "Tubuh bahkan tidak menyentuh klub, bagaimana bisa mengontrol ayunan?" tegasnya. Kritik ini menjadi salah satu warisan pemikirannya yang paling berpengaruh.

Ia juga menyoroti hilangnya seni membentuk pukulan atau shotmaking. Pemain zaman sekarang, kata Toski, hanya bisa memukul bola jauh lalu mengandalkan wedge dan putter. "Mengajarkan pemain menjadi tiga dimensi adalah seni yang hilang," ujarnya. Toski percaya bahwa kontrol dan presisi seharusnya tidak dikorbankan demi permainan power.

Sepanjang kariernya, Toski telah melatih banyak pegolf hebat seperti Tom Kite dan Judy Rankin. Namun kisah paling dramatis mungkin datang dari Birdie Kim, yang secara mengejutkan menjuarai U.S. Women's Open 2005. Toski mengaku harus menggunakan pendekatan "tough love" untuk memotivasi Kim. "Saya membuat siswa saya kesal agar mereka bermain lebih baik," kenangnya.

Bob Toski di Masters era 1950-an

Metode itu berhasil. Kim bahkan mengalahkan Toski dalam latihan sebelum turnamen besar tersebut. Sayangnya, setelah kemenangan itu, hubungan mereka merenggang. Toski menyebut Kim tidak lagi mengikutinya dan kini bermain di tur satelit. "Dia bisa menjadi pemain hebat," sesalnya. Kisah ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kesetiaan dalam dunia olahraga profesional.

Toski juga memiliki kenangan manis dengan legenda golf Ben Hogan. Ia mengaku sering mengamati Hogan berlatih dari kejauhan tanpa berani mengganggu. Suatu hari, Hogan menyapanya dan bertanya apakah ia belajar sesuatu. "Saya bilang, setiap kali Anda mengayun, saya belajar sesuatu," kenang Toski. Sejak itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat karena Hogan menilai Toski berani.

Pria kelahiran 1926 ini juga pernah mengalami masa sulit ketika dituduh melakukan kecurangan saat bermain di Senior PGA Tour pada 1986. Dua rekannya, Gay Brewer dan Billy Casper, menuduhnya salah menandai bola. Toski membantah niat curang, namun ia tetap menerima hukuman larangan bermain selama enam bulan. "Saya tidak peduli apa yang publik pikirkan," ujarnya.

Meski begitu, Toski mengakui bahwa pengalaman itu mengajarkannya siapa kawan sejati. Ia merasa beberapa orang yang dianggap teman ternyata bukan. Namun ia tidak menyesal karena telah berkontribusi besar bagi dunia golf, baik sebagai pemain maupun pengajar. "Tuhan menempatkan saya di bumi untuk alasan: sukses sebagai pemain dan guru," katanya.

Hingga kini, Toski tetap aktif dan tidak ingin berhenti. Ia bertekad untuk terus menguji kemampuan fisik dan ayunannya. "Saat saya berusia 90, saya ingin mencetak 70," ujarnya penuh semangat. Ia tidak ingin hanya duduk dan membanggakan masa lalu, melainkan membuktikan bahwa usianya bukan halangan.

Bagi Toski, fun dalam golf bukan sekadar bermain, melainkan bermain dengan baik. "Fun adalah ketika saya bermain bagus. Kalau saya mencetak 87 di usia 87, itu bukan fun," jelasnya. Ia hanya membandingkan dirinya dengan diri sendiri dan Tuhan, bukan dengan orang lain. Prinsip inilah yang membuatnya tetap termotivasi hingga usia satu abad.

Perayaan ulang tahun ke-100 Toski menjadi momen istimewa bagi dunia golf. Ia tidak hanya merayakan usia panjang, tetapi juga warisan pengetahuan dan semangat yang telah menginspirasi generasi pegolf. Dari samurai sword di rumahnya hingga foto-foto bersejarah di dinding, hidup Toski adalah cerminan dedikasi tanpa henti pada olahraga yang dicintainya.

Dengan rencana menari tap di pesta ulang tahunnya, Toski kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Semangatnya yang menyala-nyala menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin tetap aktif dan produktif di usia senja. Dunia golf beruntung memiliki sosok seperti Bob Toski, sang legenda yang tak pernah kehabisan energi.